Kegilaan Sepak Bola Tiongkok

Fakta bahwa China dalam beberapa tahun belakangan. Terlihat mulai menunjukkan ambisinya untuk dapat tampil menjadi sebagai negara adidaya dalam persepakbolaan dunia. Hebatnya lagi ambisinya terebut bukan hanya sekedar dijadikan sebuah wacana saja, namun mereka terlihat sunguh-sunguh dan sudah mulai melakukan aksi nyata untuk mencapai semuanya itu.

isamping itu, mereka juga memulainya dengan meningkatkan level permainan dari timnasnya baik itu di level senior maupun junior.Adapun target jangka panjangnya yang ingin dicapai adalah dapat meraih trofi juara dunia pada Piala Dunia 2034

Hal itu juga dibenarkan oleh mantan pelatih timnas Inggris, Sven Goran Eriksson yang saat ini menangani Shanghai SIGP, Sven-Goran Eriksson, “Tiga tahun lalu, keadaan sepakbola China belum seperti sekarang, kondisinya bisa dibilang baik. Tapi musim ini, sepakbola China menggila, sangat sangat gila,” uja Eriksson.

“Satu alasan mengapa ini bisa terjadi adalah, pemerintah. Terutama Presiden yang sangat mendorong sepakbola di negeri ini. Jadi saya rasa kini Presiden senang dengan situasi sepakbola sekarang yang terus berkembang. Dia juga ingin timnas China menjadi tim yang besar, dan lebih besar,” tuturnya.

Memang kalau kita perhatikan langkah-langkah menuju kearah itu, sudah mulai mereka realisasikan. Seperti yang mereka lakukan pada Liga Super China (CSL), yang saat ini telah berubah menjadi liga paling ‘wah’ dalam soal urusan transfer pemain, Empat Triliun rupiah dana yang mereka angarkan untuk perekrutan pemain. Tentu hal itu sukses membuat kompetisi di Negeri Tirai Bambu ini menjadi perhatian dunia.

Di Inggris misalnya, China Media Capital (CMC) ikut membeli 13 persen saham Manchester City pada Desember 2014, senilai Rp 513 miliar. Total nilai investasi para pengusaha China di industri sepak bola dunia saat ini sudah mencapai angka 1,5 miliar pounds atau sekitar Rp 30 triliun. Terakhir kita juga mendengar langkah dari Wang Jianlin, pemilik Dalian Wanda Grup, yang membeli 20 persen saham Atletico Madrid sebesar Rp 680 miliar. Ia juga mengakuisisi perusahaan pemasaran olahraga asal Swiss, Infront Sporst & Media, seharga Rp 16 triliun. Belum lagi bos besar Alibaba Group Jack Ma, yang juga membeli 40 persen saham Guangzhou Evergrande senilai Rp 2,6 triliun.